Bagi orang tua yang memiliki anak, bulan Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk mengenalkan dan membiasakan anak menjalankan ibadah puasa.
Sejak umur berapakah sebaiknya anak diajarkan berpuasa? Sesungguhnya, tidak ada standar umur mengenai hal ini. Dalam sebuah hadits, Rasulullah memerintahkan orang tua untuk melatih anak-anak mereka mengerjakan sholat saat usia mereka memasuki tujuh tahun. Berdasarkan hadits tersebut banyak ulama menyimpulkan bahwa pada umur tujuh tahun itu pula sebaiknya anak mulai dikenalkan dan dilatih berpuasa. Dari sisi medis, pada umur 6-7 tahun tersebut umumnya secara fisik anak dianggap sudah layak untuk berlatih puasa.
Tidak jarang kita temui anak baru berumur enam tahun sudah mampu berpuasa penuh. Namun ada pula yang anak yang jauh lebih besar belum kuat berpuasa. Faktor fisik anak mempengaruhi kemampuan dan kesiapan mereka dalam menjalankan puasa. Namun, sesungguhnya faktor yang paling berpengaruh dalam hal ini adalah pendidikan mental psikologis orang tua terhadap anak tersebut. Semakin dini pendidikan tersebut diberikan, maka semakin cepat pula seorang anak mampu menjalankan puasa.
Melatih anak berpuasa perlu dilakukan secara bertahap dan tidak boleh dipaksakan. Menjalankan ibadah puasa bagi seorang anak harus tumbuh dari kesadaran dan motivasi diri mereka sendiri. Membangun mental psikologis bisa dimulai dengan mengajak anak menjalankan makan sahur bersama. Pada saat ia menjalankan makan sahur, upayakan agar ia dapat merasakan nikmatnya kebersamaan anggota keluarga dalam menjalankan ibadah puasa. Kemudian biarkan mereka berpuasa semampu mereka, katakanlah hingga pukul 10 pagi. Setelah itu sang anak tetap dimotivasi untuk melanjutkan puasanya kembali. Demikian seterusnya hingga saat berbuka tiba.
Orang tua perlu memberikan pemahaman kepada anak bahwa hakekat puasa adalah mengendalikan nafsu. Salah satu bentuk pengendalian nafsu yang mudah dimengerti anak adalah menahan keinginan marah serta keinginan makan saat tidak benar-benar merasakan lapar. Bentuk pengandalian nafsu yang lain antara lain adalah bersabar saat keinginan-keinginan mereka belum terpenuhi, kemauan menunggu sesuatu dan bersedia berbagi dengan yang lain.
Saat puasa anak juga sekaligus diasah untuk bisa merasakan penderitaan orang-orang miskin, khususnya mereka yang kelaparan.
Jika anak memohon untuk berbuka sebelum waktunya sebaiknya izinkan ia dengan memberi pengertian dan motivasi agar ia dapat meningkatkan puasanya di hari berikutnya.
Untuk menambah semangat, beri ia hadiah jika berhasil menjalankan puasa dengan target dan hadiah yang telah disepakati antara anak dengan orang tua. Jangan lupa, ada hadiah yang tidak boleh dilupakan yaitu bentuk pujian atau mungkin juga berupa pelukan hangat orang tua setiap kali ia berhasil menjalankan puasa.
Agar menciptakan suasana dan lingkungan yang mendukung, sebaiknya makanan dan minuman dijauhkan dari sekeliling anak. Jika ia memiliki adik, maka adiknya perlu diberi pengertian agar ia tidak makan di depan kakaknya yang sedang berpuasa. Hal ini tentu juga berlaku bagi sang ibu yang mungkin saat itu sedang berhalangan berpuasa.
Para sahabat Rasulullah mencontohkan salah satu cara untuk menciptakan suasana yang kondusif untuk melatih anak-anak berpuasa adalah dengan mengisi waktu mereka dengan permainan yang menarik[1]. Dengan demikian anak tidak merasa terlalu terbebani ataupun merasakan kebosanan pada saat menjalankan puasa.
Dari sisi kesehatan, orang tua perlu menjaga kecukupan gizi sang anak dan waktu tidurnya. Anak sebaiknya dibiasakan tidur lebih awal, sehingga memiliki waktu tidur yang cukup karena ia harus bangun pagi untuk makan sahur. Dalam menyiapkan menu sahur dan buka, sebaiknya dihindari makanan yang terlalu banyak mengandung lemak dan minyak. Anak tidak disarankan untuk minum teh berlebihan pada saat sahur karena akan mengurangi penyerapan mineral yang diperlukan oleh tubuhnya.
Yang juga sangat penting diperhatikan selama menjalankan ibadah puasa adalah menjaga jangan sampai sang anak mengalami dehidrasi. Hal ini bisa dilakukan dengan memberi makanan berkuah dan minuman jus buah pada saat sahur. Pada saat berbuka, anak harus selalu diingatkan agar memperbanyak.
Menu yang disarankan pada waktu sahur adalah makanan yang mengandung unsur-unsur gizi yang mencukupi seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Kandungan serat dalam makanan juga perlu mendapat perhatian. Makanan yang kaya serat akan dicerna lebih lama di dalam tubuh, dengan demikian proses pengosongan lambung akan berlangsung lebih lama sehingga mengurangi rasa lapar.
